RESUME BUKU PENGANTAR FILSAFAT ILMU


BAB I MANUSIA DAN FILSAFAT
Manusia tidak hanya bekerja untuk kelangsungan hidupnya, tetapi lebih dari itu, bagaimana hidup jauh lebih mudah, teratur, indah, dan bermakna. Seluruhnya adalah karunia Tuhan yang disebut akal budi. Akal budi membimbing manusia untuk berkomunikasi, mampu menyatakan isi hati, mendatangkan rasa kagum, heran, dan ragu. Hasrat keinginan manusia yang melahirkan berbagai pertanyaan mendasar, membawa manusia ke alam filsafat. Pembahasan mengenai filsafat pada dasarnya dapat dikembangkan menjadi dua kategori, pertama pertanyaan-pertanyaan protocol, kedua disiplin pengetahuan seperti logika, bahasa, dan matematika. Maka pertanyaan filsafat tentang apa (outologi), bagaimana (epistemologi ) dan untuk apa (aksiologi) bukan saja akan membuka dan membentuk wawasan mendalam tetntang suatu cabang pengetahuan, tetapi juga kemampuan untuk membedakan pengetahuan satu dengan lainnya.
Sasaran Lingkup pengkajian Filsafat Lous O. Kattsoff sebagaimana dikutip Mudlhor Achmad (1994) menjelaskan sepuluh lingkup sasaran pengkajian filsafat yaitu: Hakikat, Zat, Ada, Kenyataan, Kebenaran, Bahan, Bentuk, Perubahan, Sebab, dan Hubungan. Berfilsafat semata-mata mencari kebenaran dan demi kebenaran itu sendiri. Di sinilah mulianya filsuf, dia hanya mencari kebebnaran.
 
BAB II FILSAFAT DAN ILMU
Filsafat menjawab, hukum alam adalah hukum materi atau zat. Zat adalah hakikat dari segala yang ada. Ia adalah awal dan akhir dari segalanya. Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan ini timbullah aliran materialisme yang merupakan aliran besar filsafat metafisika. Ilmu bertugas menjangkau apa yang berada di balik pengetahuan panca indera. Keluasaan dan kemampuan pikir manusia memotivasi beberapa filsuf mempercayai bahwa satu-satunya sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah rasio. Filsafat positif membatasi diri pada kajian tentang fenomena dan hubungan antar fenomena tokohnya adalah Comte.Sesuai hukum Tiga Tahap Perkembangannya, pada tahap positif atau nyata filsafat tidak diperlukan, yang diperlukan hanya segala sesuatu yang kongkret, tepat, pasti, dan mempunayai manfaat. Filsafat skeptisisme meragukan kemampuan manusia mencapai kebenaran, tidak ada ilmu yang mutlak, tandas Julian Huxely.
Kedua pandangan di atas tidak seluruhnya benar. Filsafatlah yang mewakili kelahiran ilmu. Para pemikir Islam seperti Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Ibnu Khaldun, Ibnu Rusyid, Al- Khawarizmi dan lainnya yang banyak dikenal di dunia Barat, disamping itu ilmuan juga filsuf. Begitu juga pada zaman Renaissance, tokoh pemikir seperti seperti Galileo Galilei, Francis Bacon, Rene Descartes, Isaac Newton, Adam Smith, dan lainnya.

BAB III MENUJU FILSAFAT ILMU
Kajian Filsafat ilmu awalnya mencakup tiga bidang utama, permasalahan apa yang benar dan apa yang salah (logika) mana perbuatan baik, dan mana perbuatan buruk (etika), dan apa yang termasuk indah dan jelek (estetika). Selanjutnya filsfat berkembang lagi, yakni teori tentang ada (metafisika) dan teori tentang organisasi social/ pemerintah yang ideal (politik).
Kelima cabang utama filsafat tersebut, berkembang menjadi berbagai cabang spesifik, di antaranya filsafat ilmu, sebagi bagian dari filsafat pengetahuan (epistemologi). Paling sedikit terdapat tiga aspek filsafat ilmu: antologis, epistemologis dan aksiologis. Aspek epistemologi ilmu tercermin secara operasional dalam metode ilmiah.
Cinta para filsuf kepada ilmu dan juga pengetahuan secara umum, merupakan berkah filsafat yang memberikan dasar-dasar yang kokoh kepada mereka.

BAB IV PENALARAN DAN LOGIKA
Pengetahuan manusia berkembang, karena manusia memiliki dua kelebihan. Pertama, manusia mampu mengkomunikasikan pikiran-pikiran maupun ide-idenya melalui bahasa yang sistematis. Kedua, kemampuan berpikir manusia mengikuti suatu alur berpikir tertentu. Cara berpikir inilah yang disebut menalar. Model penalaran deduktif yang menarik simpulan khusus dari yang bersifat umum, dan induktif dari kasus-kasus umum dari kasus-kasus khusus, telah memberikan warna bagi perkembangan ilmu.
Perbincangan ihwal kebenaran dalam logika dibedakan menjadi dua, kebenaran bentuk dan kebenaran isi (materi). Logika adalah ilmu ihhwal norma bagaimana seharusnya berpikir sesuai dengan syarat yang telah ditentukan untuk mencapai kebenaran.
BAB V KEBENARAN
Kebenaran bagaikan terminal akhir upaya manusia dalam berpikir. Ibarat terminal, kebenaran dicapai yang ditempuh melalui berbagai jalan, sehingga lahirlah beberapa teori kebenaran. Teori pertama adalah teori koherensi, kebenaran ini disebut juga kebenaran bentuk.Teori kebenaran koherensi dan korespondensi, kedua-duanya dipergunakan dalam berpikir ilmiah. Penalaran teoritis berdasarkan logika deduktif jelas mempergunakan teori koherensi, sedangkan pembuktian secara empiris, dengan pengumpulan fakta-fakta pendukung merupakan teori korespondensi. Adapun teori kebenaran ketiga teori kebenaran pragmatism yaitu kebenaran suatu pernyataan diakui berdasarkan kegunaannya atau fungsionalnya dalam kehidupan praktis.

 BAB VI PERKEMBANGAN ILMU
Ilmu dimulai dari hal-hal sederhana, rasa ingin tahu, rasa heran, keraguan, dan masalah-masalah keseharian yang selalu di hadapi manusia setiap waktu. Pendekatan silogistik, pada era Yunani dianggap satu-satunya cara berpikir sistematik, pendekatan ini merupakan akibat wajar akibat kemunculan rasionalisme.
Sumbangan para ahli pikir muslim, telah memajukan dunia matematika, fisika, astronomi, optic, kimia, zoologi, botani, dan farmasi. Penulis-penulis barat pada umumnya berusa menghilangkan sumbangan dunia islam terhadap perkembangan ilmu. Mula-mula para ilmuan muslim menggunakan metode eksperimental, melalui penalaran induktif, diperkenalkan oleh Roger Bacon, dan dimantapkan oleh pragmatisme, Francis Bacon. Era berikutnya, Sir Isac Newton, Menggabungkan penalaran deduktif dan induktif. Dialanjutkan Charles Darwin, yang melahirkan teori evolusi. Penalaran induktif dan deduktif inilah yang dikenal sebagai metode ilmiah.
 Perkembangan ini merupakan sesuatu yang wajar, mengingat metode ilmiah mendasar dirinya pada akal sehat (reasonable) lebih-lebih ditunjang dengan usaha yang terus-menerus menyempurnakannya.

BAB VII HUKUM ALLAH DAN MANFAAT ILMU
Hukum Allah bagi seluruh alam baik makro maupun mikro menjadi batas dan keterbatasan manusia, sekaligus kesempatan untuk bisa menyingkap hukum-hukum tersebut. Di sinilah mulainya ilmu-ilmu, tiada lain merupakan usaha manusia untuk memahami hukum Allah yang pasti bagi alam ciptaan-Nya.
Dalam usaha memahami hukum Allah yang bertebaran di alam ini, manusia harus mengerahkan akal budi. Dalam kaitannya dengan seluruh kenyataan kosmis, ilmu manusia melalui kegiataan akalnya, merupakan “sedikit” ilmu yang diberikan Allah, sedangkan ilmu Allah yakni kebenaran yang serba meliputi (muhith) adalah tidak terbatas. Meskipun alam dibuat lebih rendah (takshir) dari pada manusia, tidak selayaknya manusia bersikap somboong. Ilmu merupakan usaha manusia “menemukan” kebenaran hukum Allah SWT yang telah di-ADA-kan ketika pertama alam dan seluruh isinya diciptakan.

 BAB VIII TEKNOLOGI: KAWAN ATAU LAWAN
Menurut Barkah Sancoyo, ada tiga karakter teknologi diantaranya: Pertama, teknologi pada hakikatnya adalah ‘tangan’ untuk melaksanakan kekuasaan yang dimiliki ilmu, hal ini harus disadari oleh manusia, kedua teknologi bersifat dialektik (menurut Prof. Ali Syahbana), artinya teknologi dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi manusia, ketiga teknologi memerlukan energi yang sangat besar.
Beberapa contoh dampak teknologi diantaranya : Pertama Otomatisasi, ribuan karyawaan harus menganmggur karena digantikan mesin, kedua reaktor nuklir, ketiga pesawat ruang angkasa, keempat mobil dan kawan-kawannya, kelima pengunaan DDT.
Meskipun dampak teknologi terkadang melawan kepentingan manusia bukan berarti teknologi harus dipandang sebagai lawan. Memang ilmu dan teknologi, bagaikan pisau bermata dua, selalu bersifat taksa (ambivalen). Terdapat segi positif dan segi-segi negatifnya.

BAB IX ILMU, GERAK MAJU KEBENARAN
Pada dasarnya, pandangan-pandangan manusia, baik sebagai keputusan, hukum ataupun teori, semuanya akan berkembang. Kekokohan suatu teori tergantung kemampuannya bertahan dari gempuran verifikasi dan flasifikasi.
Dibutuhkan kebesaran jiwa untuk menerima kebenaran dari mana saja datangnya, karena kebenaran tetaplah kebenaran di  manapun ia ditemukan orang. Ilmu adalah kebenaran yang selalu berkembang.

BAB X PARADIGMA DALAM PENELITIAN ILMIAH
Dalam konteks desain penelitian, pemilihan paradigm penelitian mendeskripsikan pilihan suatu kepercayaan yang akan mendasari dan memberikan pedoman seluruh proses penelitian (Guba, 1990) . Paradigma penelitian menentukan masalah apa yang dituju dan tipe penjelasan apa yang dapat diterimanya.
Lather (1992) berpendapat ada dua paradigm, positive dan pospositivis, sebagai perbandingan Lincon dan Guba (1994) mengidentifikasi empat paradigm utama, yaitu positivism, pospositivisme, konstruksionisme dan kritik teori, Sarantakos (1998) berpendapat ada tiga paradigma utama dalam ilmu social yaitu, postivisik, interpretif, dan critical. Pemilihan paradigma memiliki implikasi terhadap pemilihan metodologi dan metode pengumpulan serta penganalisisan data. Adapun beberapa paradigm lain: Paradigma dan perumusan teori, paradigm positif, paradigma interpretive, paradigm radical humanist, paradigm radical structuralist.
Filsafat sebagi dasar berbedanya paradigma, ibarat energy dan ilmu itu umpama mesin listrik. Filsafat dan ilmu bahu membahu mengusung kebenaran, namun kebenaran filsafat dan ilmu masih tetap saja bersifat relative sebagai proses yang tidak pernah selesai. Adapun kebenaran itu identik dengan Pencipta kebenaran. Oleh karena itu, yang Maha Benar hanyalah Allah SWT (QS 34:48)




Komentar